Perbedaan Budaya Antara Desa Bumiayu dan Desa Galuh Timur
Perbedaan Bahasa Dari Kebudayaan Yang Berada Dilingkungan Brebes
PAPER
Diajukan
untuk memenuhi Ulangan Tengah Semester (UTS) :
Mata Kuliah : Komunikasi Lintas Budaya
Dosen Pengampu : Ery Fajarwaty Priyono, S.S., M.A.
Disusun Oleh :
Nama : Bela Noviana Putri
NIM : 43219014
FAKULTAS
ILMU POLITIK DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
PERADABAN BUMIAYU
2020
BAB
I
PEMBUKAAN
Indonesia
merupakan suatu negara yang berlandaskan pancasila.Didalam Pancasila pasti ada
nilai-nilai dan fungsinya,salah satu fungsinya adalah sebagai identitas yang
mempunyai beragam macam-macam suku,adat,ras,etnik,bahasa,dan budaya.Untuk bisa
berkomunikasi antar individu,antar kelompok dengan daerah lain kita harus tahu
bahasa daerah mereka,budaya meraka dan lain-lain. Menurut Djoko Kenjono (dalam
Chaer, 2003: 30), bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer yang
digunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentitikasikan diri. Bahasa tidak hanya sekedar sistem bunyi, morfologis,
dan sintaktis yang dirancang untuk menyatakan suatu pikiran, tetapi juga
membawa identitas budaya dan status sosial. Bahasa mencerminkan kondisi sosial
dan hubungan antarmanusia (Paulston, 1986: 116). Bahasa adalah salah satu unsur
kebudayaan sebagai identitas budaya. Identitas budaya merupakan kesadaran dasar
terhadap karakteristik khusus kelompok yang dimiliki seseorang dalam hal
kebiasaan hidup, adat, bahasa, dan nilai-nilai (Dorais, 1988).
Di
Indonesia bahasa daerah pada tahun 2020 ada 718 dan bahasa Indonesia itu sendiri.Bahasa
tersebar dari sabang sampai merauke yang bahasanya berbeda-beda disetiap
daerah.Bahasa Daerah adalah suatu bahasa yang dituturkan disuatu wilayah dalam
sebuah negara kebangsaan pada suatu daeerah kecil,negara,bagian
federal,provinsi,atau daerah yang lebih luas.Contohnya di Pulau Jawa yang
merupakan suku bangsa jawa terbesar ,bahasa jawa digunakan oleh 15 provinsi.
Salah
satu bahasa dan kebudayaan yang berada disekitar Brebes,Jawa Tengah ini yang
terdapat banyak perbedaan baik antara desa maupun antar kecamatanpun sudah ada
kata yang berbeda tetapi artinya sama,dialek yang berbeda,adat yang
berbeda,budaya yang berbeda.Biasanya perbedaan bahasa antar daerah terjadi karena
adanya sejarah nenek moyang,demografi,budaya,adanya batasan anatar pulau
ataupun antar pantai.Namun, dikabupaten Brebes ini sangatlah berbeda dari
daerah yang lain salah satunya karena
tidak dibatasi oleh selat atau antar pulau.Bahasa dan kebudayaan yang berada di
Brebes ini disetiap desa dan kecamatanpun bisa berbeda yang membuat saya ingin
meneliti,ingin tahu dan mengetahui bahasa
daerah yang berada di daerah Brebes,terutama pada bagian Brebes Selatan.Maka
dari itu saya membuat Paper ini yang akan membahas dan menjelaskan
perbedaan bahasa dan budanya dari desa
Bumiayu yang berasal dari kecamatan Bumiayu dan desa Galuh Timur yang berasal
dari Kecamatan Tonjong.Cara berkomunikasi di desa Bumiayu nada ngomongnya ya
biasa saja tetapi di desa Galuh timur
itu kalau dialeknya berbeda.Untuk lebih jelasnya,dalam mendeskripsikan
perbedaan budaya desa tersebut akan dibahasa di isi.
LATAR
BELAKANG PENELITIAN
A. A. Latar belakang
Budaya
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya berkaitan dengan
kebiasaan bermasyarakat dalam suatu wilayah memiliki berbagai budaya sebagai
ciri khas dari cara bersosialisasi suatu kelompok.Kehidupan manusia dimanapun
pada hakekatnya adalah cerminan nilai-nilai dari sekumpulan manusia yang ada di
dalamnya.
Bahasa
merupakan salah satu dari unsur kebudayaan yang juga sebagai alat komunikasi.
Bahasa dijadikan sebagai ciri atau identitas diri oleh masyarakat, dan juga
sebagai sarana berinteraksi sosial masyarakat saat melakukan komunikasi dengan
siapa dan dimanapun.Bahasa tanpa adanya komunikasi tidak akan menghasilkan
suatu kebudayaan yang berbeda-beda seperti sekarang ini.Dengan adanya budaya
dan bahasa menjadikannya fungsi utama dalam berkomunikasi dengan orang lain
yang membuat kita menjadi lebih tahu budaya dan bahasa mereka.
Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman budaya.Dengan
melestarikan budaya adalah kewajiban dan
cara bagi kita semua agar warisan dari generasi sebelumnya tidak hilang.Salah
satu Provinsi yang mempunyai perbedaan bahasa adalah Jawa Tengah.Di Jawa
Tengah,bahasa Jawa telah berkembang dan dapat dibeda-bedakan atas dasar
beberapa ciri yang khas dan beberapa lingkungan yang berbeda-beda. Bahasa Jawa
memiliki suatu sistem tingkatan-tingkatan yang sangat rumit, terdiri paling
sedikit sembilan gaya bahasa. Sistem ini menyangkut tentang perbedaan
kedudukan, pangkat, umur, dan tingkatan keakraban. Dalam gaya bahasa menyebabkan
adanya tingkatan-tingkatan bahasa yang menyebabkan tingkatan bahasa yang
berbeda tinggi rendahnya. Tingkatan bahasa menjadi alat penentu status sosial
seseorang dalam berinteraksi (Koentjaraningrat, 2004: 23).
Berdasarkan
penjelasan diatas,dapat diketahui bahwa perbedaan bahasa disetiap daerah
mempunyai perbedan baik dari intonasi,kosakata,dan logatnya,Untuk itu peneliti
akan meneliti asal yang terjadi disetiap daerah mempunyai perbedaan bahasa yang
berada dilingkungan Brebes Selatan yaitu Desa Bumiayu dan Desa Galuh Timur
B. Manfaat
Penelitian
Untuk
itu,tentunya dalam sebuah penelitian harus ada manfaatnya.Ada beberapa manfaat
penelitian sebagai berikut :
1. Sebagai
alat komunikasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari
2. Sebagai
alat pemersatu bangsa agar tidak pecah atau melebur
3. Dapat
menambah wawasan bagi peneliti dan bagi
orang yang membaca.
C. Tujuan
atau Harapan
Dalam
penelitian yang saya buat ini untuk orang-orang atau masyarakat yang tidak tahu dengan sejarah bahasa dari
budaya desa tersebut yang mungkin
berbeda dari desa mereka.Harapan saya dalam penelitian ini tentunya masyarakat
jadi saling lebih menghargai bahasa dari
budaya mereka dan sejarah dari desa tersebut,jangan menghilangkan budaya
aslinya atau jangan sampai melebur,karena bahasa merupakan identitas suatu
budaya.
BAB
III
ISI
A. Desa
Bumiayu
1. Sejarah
atau Asal-usul Nama Desa Bumiayu
Pada zaman dahulu ada seorang raja yang gagah
nan rupawan yang mempunyai kegemaran berburu di hutan.Kerajaan yang dipimpinnya
aman tenteram, gemah ripah loh jinawi, sehingga sang raja bebas
melakukan aktivitas berburu ke hutan mana pun yang dia kehendaki tanpa diiringi
oleh seorang pengawal.Disaat Raja sedang berburu, Raja terganggu melihat
perempuan cantik alami seperti bidadari. Raja sangat shocked dan rasa
penasaran yang berlebih.Matanya sampai tidak berkedip melihat perempuan gadis
cantik itu. Dari jarak yang tidak jauh, Raja terus mengamati dengan seksama.
Sang Raja hampir tidak percaya kalau
yang dilihatnya adalah manusia. Rupanya gadis cantik yang sedang mencuci di
sungai Kali Keruh tersebut tidak tahu kalau dia sedang diamati oleh
seseorang.Karena rasa ingin mengenalnya lebih dekat, raja berusaha
perlahan-lahan mendekat.Karena terlalu fokus mengamati gadis cantik tersebut,
kakinya tersandung sebatang tunggak kayu selong.Sang gadis pun ketakutan
kemudian berlari. Raja mengikutinya dari belakang.Di situ raja bersumpah,
"Kelak suatu saat keturunanku tinggal di sini, tempat ini saya beri nama
Munggang (munggah: naik) (salah satu desa di dekat Kali Keruh). Walaupun
kondisi ngos-ngosan, raja tidak putus asa untuk terus berjuang.Raja kelelahan
dan beristirahat sambil memegang kedua lutut kaki. Dan raja bersumpah,
"Kelak anak cucuku tinggal di tempat ini, maka tempat ini saya kasih nama
Laren (liren atau istirahat). Raja mengejar kembali gadis cantik itu yang
dari kejauhan terlihat sang gadis sudah menyeberangi sungai dan terlihat tidak
jelas.Untuk ketiga kalinyapun Raja kembali bersumpah."Kelak suatu saat
anak cucu saya mendiami tempat ini, maka tempat ini saya beri nama
Sawangan" (sawang-sawang atau samar-samar).
Raja terus membuntuti langkah gadis,
hingga dia menyadari kalau sang gadis berusaha bersembunyi di tempat
raja.Dengan langkah pasti, Raja tersenyum-senyum,ternyata sang gadis itu terjebak
dalam kerajaannya. raja menegecek satu persatu ruangan kerajaan dan ada jejak
kaki basah di lantai kerajaan. Dan ternyata jejak kaki tersebut mengarah ke
kamar Raja.Raja menyapa si gadis tersebut, "wahai wanita yang cantik,
selamat datang di kerajaanku". Sang gadis baru ngeh kalau tempat
persembunyiannya adalah tempat orang yang mengejarnya.Gadis pun menjawabnya
dengan keras dan tajam "Tolong siapa pun kisanak(saudara)! Jangan sentuh
aku!", raja membalasnya, "Jangan takut wanita cantik, aku adalah
seorang Raja," ujar raja berusaha merayu. "Aku tidak peduli siapa
kisanak (saudara), anda raja atau bukan. Tolong jangan sentuh aku, kalau
kisanak(saudara) menyentuhku, aku akan masuk ke dalam Bumi ini".
Saat itu sang gadis tidak paham dengan
tahta sebagai Raja, tapi ia tidak hijau dengan harta. Terlebih raja dengan rupa
yang ganteng, berkumis tebal. Gadis cantik itu tetap konsisten dengan
pendiriannya. Mendengar ancaman sang gadis, raja tidak peduli, beliau menutup
pintu kamar dan berusaha meraihnya.Sebelum raja melangkah ke arahnya, dia
menjejakkan kakinya ke lantai dan saat itu juga gadis cantik lenyap,menghilang ditelan
bumi. Raja kaget dan tidak percaya apa yang terjadi dihadapannya, beliau pun
berteriak histeris sambil menyebut, "Bumi...ayu...Bumi...ayu..." Dan
lahirlah nama daerah Bumiayu yang artinya bumi yang cantik. (Devi
Yunita Parede)
2. Bahasa
Desa Bumiayu
Bumiayu merupakan sebuah kecamatan Wilayah kecamatan
Bumiayu bagian Brebes Selatan,Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah yang
mempunyai dialeknya yang khas, yaitu dialek Bumiayu yang pengucapanya
sangat dekat dengan bahasa inggris dan belanda atau Medok Ingris Belanda bukan
medok jawa contoh "dog" dalam bahasa bumiayu yang artinya tiba dan dalam bahasa inggris artinya anjing
pengucapaya sama, Contoh kalimat "aku nembe dog sing pasar" artinya
saya baru pulang dari sekolah. Dialek bumiayu tidak berbeda jauh dengan Bahasa Banyumasan . Kosakata dan cara pengucapannya juga mirip. Yang membedakan dialek Bumiayu dengan Bahasa Banyumasan hanya pada intonasi dan pemilihan kata.
Memang
ada sebagian kata yang umum dipakai oleh orang Banyumas tetapi tidak digunakan
oleh orang Bumiayu. misalnya kata "masuk", kata yang biasa dipakai
oleh orang Banyumas adalah "mlebu" tetapi orang Bumiayu memakai kata
"manjing", kedua kata tersebut sama-sama bahasa Jawa dan memiliki
arti yang sama yaitu masuk kedalam ruangan.Bahasa Bumiayu banyak dipengaruhi
oleh bahasa Sansekerta. Dalam tradisi budaya Jawa, bahasa Sansekerta berada di
atas Krama Hinggil, bahasa Jawa yang dianggap paling halus. Kata
"manjing", misalnya, sering dipakai oleh para dalang dalam cerita
perwayangan. Kata "manjing" digunakan secara khusus untuk
menggambarkan ruh yang masuk ke dalam diri sang Arjuna. Tapi di Bumiayu, kata
tersebut digunakan untuk sembarang kalimat yang berkonotasi "masuk".
"kucinge manjing umah" yang artinya kucingnya masuk rumah. Dialek
Bumiayu juga sering menambahkan akhiran rah,sih,lah,neng,belih untuk mengakhiri
kalimat, hal ini mungkin untuk menegaskan maksud dari kalimat tersebut.
Misal:
1. Ana
apa sih ? (Ada apa ?)
2. Iya
neng ? ( Beneran ? )
3. Rikané
masa ora ngerti? (Kamu masa ngga ngerti ? )
4. Pan
mangan belih ? (Mau makan ngga ? )
5. Pan
maring ngendi ? ( Mau pergi kemana ? )
6. Aja
kaya kuwe rah (Jangan kaya gitu dong.)
7. Karepe
ko ( Terserah kamu )
8. Mana
lah lunga!!!(Sana kamu pergi!!!)
Jika
dalam sebuah dialog
Siti
: Katmi!!. Kon pan maring ndi nggawa payung?,mbok udane lagi deres? (Katmi!!.
Kamu mau kemana bawa payung ? ,Kan hujannya lagi gede?
Katmi
: Nyong lagi darurat men Siti, anake nyong awake rumab,pan tuku obat nang
apotek disit. (Aku lagi darurat banget Siti, anak aku demam, mau beli obat di
Apotek dulu.
Siti
: Ya alloh semoga panase cepet mudun mi, ati ati ya nang dalane. (Ya alloh
semoga panasnya cepat turun mi, hat-hati ya dijalannya.)
Katmi
: Ya mi,suwun ya mi dongane.(Ya mi,terimaksih atas doanya.)
3. Mitos
dan Legenda Nyai Rantansari
Seperti
Cerita diatas ,sebelumnya Sunan Amangkurat sudah pernah bertemu dengan gadis
cantik itu yang tiba-tiba menghilang yang akgirnya Sunan Amangkurat berusaha
mencari.Ketika menghampiri gadis cantik itu, semakin cepat ia berusaha
meraihnya semakin cepat pula wanita itu lenyap dari pandangan matanya.
Sampailah Raja Sunan Amangkurat berhenti disebuah tempat dimana ia melihat
gadis cantik itu masuk dan hilang tak berbekas. Betapa terkejutnya Gusti Sunan,
ketika secara tiba-tiba muncul suara tanpa rupa yang menasehatinya supaya
selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan untuk memperolehnya ia harus terus
berjalan ke utara bukan ke barat.Sampailah dibawah pohon beringin besar denagn tertunduk
lesu sambil menyadari kehilanagnnya selama ini. Tempat tersebut kini bernama
Dukuh Kramat (yang berarti Kramat : Wingit atau angker) dan terdapat “Candi Kramat“
yang dipercaya masyarakat setempat dihuni oleh gadis cantik yang dicari Amangkurat yaitu Nyai
Rantansari adalah sosok gadis cantik yang ikut memiliki peran atas penamaan
Bumiayu ini. Menurut Sunan Amangkurat I, pemberian nama Bumiayu ini memang selain
memiliki panorama alam yang sangat indah, juga karena wilayah ini dikuasai oleh
Nyai Rantansari yang memiliki kecantikan yang ngga ada tandingannya petunjuk penyusupan
dan pengkhianatan oleh masyarakat yang ditugasi menjaga. Masyarakat mempercayai
Sosok Nyai Rantansari adalah sebagai Danyang atau sebangsa Jin perempuan yang
masih memiliki ikatan dengan penguasa Pantai Selatan, Nyai Roro Kidul. Konon,
ia suka memakai pakaian hijau gadung. Maka, kepercayaan masyarakat Bumiayu
adalah pantang bagi orang memakai pakaian dengan warna yang sama saat masuk ke
Dukuh Kramat, terlebih saat memasuki kawasannya karena Nyai Rantansari tidak menyukai jika ada orang yang berpakaian menyamainya memakai
baju hijau gadung.
B. Desa
Galuh Timur
1. Sejarah
Nama Desa Galuh Timur
Galuh Timur merupakan salah satu desa yang termasuk dalam wilayah kecamatan
Tonjong kabupaten Brebes, Jawa Tengah “Galuh” berasal dari bahasa Sansakerta
yang berarti sejenis batu permata. Kata “galuh” juga biasa digunakan sebagai
sebutan bagi ratu yang belum menikah (“raja puteri”).Timur juga dikaitkan
dengan legenda zaman kerajaan. Dari cerita yang turun-menurun,bahwa nama Galuh diambil
dari nama seorang putri dan raja asal kerajaan Sumedang yang melancong dan
kecantol pemuda gagah di desa tersebut.”Dulu pernah ada putri Raja Sumedang
melancong ke sini, dan akhirnya tertarik dengan pemuda gagah dan tampan. Mereka
nekat kawin lari, walau tak mendapat restu raja. Akhirnya, sang raja murka dan
menjatuhkan kutukan.”
Senjata pusaka raja berupa golok dilemparkan dari Sumedang meluncur sampai
ke desa tempat pasangan pengantin tinggal. Golok yang berputar menerabas rumpun
bambu, hingga rantas bagian atas. ”Sampai sekarang bambu di sebelah barat Dukuh
Makam Dawa tidak tumbuh ke atas. Ujungnya seperti pruthul (terpotong rata), dan
gagangnya copot hingga terlempar hingga radius +- 3km yang sekarang dijadikan
situs bernama “gagang golok”.” ujar Pak Yusuf. Akibat kutukan raja, anak
pasangan galuh dan pemuda berubah menjadi Ganesha atau penduduk sini atau menyebutnya
Jawong (gajah wong), artinya manusia berkepala gajah. Bayi itu diasingkan di
hutan dibekali sepasang golek emas. Pengasuhnya kaki Ulang dan Nini Nyai
Alung. Kawasan hutan itu di kemudian hari mendapat sebutan hutan ulang-aling.
Sekarang lokasi ini menjadi areal hutan jati yang dikelola Perhutani.
Galuh Timur termasuk dalam sejarah kerajaan Galuh yang berdiri pada abad
ke-6 (yang sekarang masuk wilayah kabupaten Ciamis).Namun perlu ditelaah
kembali kebenarannya, karena tidak ada satupun kata atau lokasi yang mendekati
kata galuh timur. Di situ hanya dijelaskan bahwa terdapat kerajaan kecil
semacam kadipaten bernama Galuh Rahyang yang berlokasi di Brebes dengan
ibukotanya bernama Medang Pangramesan. Ketika kerajaan Galuh pada masa Raja
Limwa atau gajahyana berkuasa, di situ memang diceritakan sempat memindahkan
ibukota kerajaan ke Linggapura (lebih tepatnya desa Raja Galuh).Ada juga
tentang legenda Lebak Larang yang menceritakan bahwa masyarakat pribumi Galuh
Timur yang keturunan raja Galuh dilarang menyantap daging menjangan karena
telah menyelamatkan anak sang putri. yang sampai mana pantangan tersebut masih
dipercayai oleh sebagian besar masyarakat Galuh Timur.
2.
Bahasa Galuh Timur
Galuh Timur merupakan salah satu desa yang bersebelahan dengan desa
Klaijurang.Bahasa Galuh Timuran sendiri sebenarnya sama dengan Desa Bumiayu,Banyumasan
dan Tegal.Dalam tradisi budaya Jawa, bahasa Sansekerta berada
di atas Krama Hinggil, bahasa Jawa yang dianggap paling halus.Desa Bumiayu dan
Desa Galuh Timur mempunyai perbedaan dalam kosa kata,pemakaian
kata dan diakhir kalimat ada nada panjangnya.Kosa kata Desa Bumiayu dan Desa
Galuh Timur kosa katanya mempunyai arti
yang sama dan ada juga kosa kata yang mempunyai arti yang beda.Berikut beberapa
kosa kata yang berbeda adalah sebagai berikut :
|
Desa Galuh Timur |
Desa Bumiayu |
Bahasa Indonesia |
|
Dibeluk/ Diceluk |
Didundang |
Dipanggil |
|
Nahim |
Amit-amit/jiji |
Jorok |
|
Adheg |
Ngadeg |
Berdiri |
|
Adep |
Madep |
Mengahadap |
|
Abane |
Jere |
Katanya |
|
Age-age |
Gagiyan |
Cepetan |
|
Bawuk |
Mateng |
Matang |
|
Cunthel |
Goblog |
Bodoh |
|
Demen |
Seneng |
Suka |
|
Sampeyan/Rika |
Ko |
Kamu |
Jika dalam sebuah
dialog
Suratmi : Kowen pan
marang endiiiii.( Kamu mau kemana )
Wanisah : Rep
ngrewangi manene nang kebon ngunduhi
mlinjo (Mau bantuin Ibu di kebun ngambil mlinjo)
C.
Perbedaan Budaya Desa Bumiayu dan Desa
Galuh Timur
Dari Penjelasan
deskripsi diatas,Desa Bumiayu dan Desa Galuh Timur mempunyai latar belakang
atau sejarah yang berbeda.Desa Bumiayu mempunyai latar belakang yang berawal
dari cerita perjalanan Raja Amangkurat dari Mataram yang menjelajahi dari wilayah kewilayahnya
mempunyai cerita tersendiri.Dalam penamaan Desa Bumiayu juga berhubungan dengan
hal mistis atau mitos yang masih dijaga atau mengikuti aturan tersebut.Jika berdampak negatif justru akan melimpah pada diri kita sendiri.Sedangkan penamaan Desa Galuh Timur mempunyai latar belakang seorang putri
Raja asal Sumedang,Jawa Barat yang melancong ke desa tersebut dan tertarik
dengan pemuda gagah.
Berikut beberapa perbedaan bahasa dari
dua desa tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Geografis
Ternyata setiap wilayah seperti
dataran tinggi,dataran yang rendah mempengaruhi masyarakat dalam penggunaan
logat-logat Bahasa Jawa.Bahasa Jawa yang digunakan di daerah dua tersebut
adalah dialek ngapak digunakan oleh
daerah yang letak geografisnya berada di
perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah adalah Brebes dengan Cirebon.Dialek
dibagian selatan ini mepunyai ciri yang sangat menonjol dalam pengucapan,
intonasi, dan kosakata. Pengucapan atau pelafalan hampir mirip dengan dialek
Tegal. Bedanya, terdapat pada intonasi dalam pengucapannya. Dialek Galuh timur
lebih ke Daerah Tegalan seperti intonasi
pengucapannya lebih panjang di setiap akhir kalimat dan dialek Bumiayu terlihat
lebih tegas.Misalnya, pada kalimat “ kon tes maring ndi?” ( kamu habis dari
mana?). Huruf terakhir yaitu i jika dalam dialek Bumiayu dalam pelafalan diberi
penekanan, sedangkan dalam dialek Galuh Timur pelafalan huruf i diperpanjang.
2.
Intonasi
Intonasi merupakan tinggi rendahnya nada dalam
suatu pengucapan atau pelafalan. Intonasi dialek desa Bumiayu itu berbicaranya terlihat lepas,tegas, dan terdengar cepat
dalam berbicara.Hal ini dapat dilihat ketika
dari cara mereka berbicara dengan
orang lain. Berbeda dengan dialek Desa Galuh Timur ketika mereka berbicara
dengan orang lain mesti kalua diakhir kalimatnya terdapat nada yang panjang
yang membuatnya harus bisa tahu membedakan mana pertanyaan mana pernyataan.Jadi
Ketika ada salah satu orang yang masuk wilayah tersebut mendengar dan melihat
mereka berbicara seperti itu adalah suatu hal kebiasaan mereka yang sudah diteruskan dari generasi
sebelumnya.
3.
Kosakata
Kosakata dalam dialek pastinya
beragam,berbeda dan jarang ditemui pada dialek lain. Kosa kata dalam dialek
Bumiayu sama dengan banyumasan yang katanya bersinonim. Sebagai contoh adalah
tuturan seorang ibu yang sedang membicarakan sifat anaknya.Kosa kata dalam
dialek Desa Galuh Timur itu sama seperti
daerah Tegal yang setiap kata dalam penulisannya
sama dengan cara bacanya.Misal pada,sega,apa,tuwa.
BAB
IV
KESIMPULAN
Jadi Sejarah dalam penamaan 2 Desa
tersebut berpengaruh dalam kehidupan sekarang terutama dalam menjaga tradisi
dan peninggalan-peninggalan yang tertinggal masih dianut atau tidak,masih
dijalankan atau tidak.Bahasa adalah identitas budaya dalam berkomunikasi,
karena setiap individu mempunyai gaya berbahasa yang berbeda dari orang lain.Setiap
bahasa memiliki kaidah bahasa yang sama dan ada juga berbeda , namun karena
bahasa itu digunakan oleh orang yang mempunyai latar belakang sosial dan
kebiasaan berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam.Pemakaian bahasa pada daerah
Desa Bumiayu dan Desa Galuh Timur, sebagian besar masyarakat tidak melihat dari
struktur kalimat itu sendiri, sehingga bahasa tersebut hanya dapat dipahami
oleh sekumpulan masyarakat itu sendiri. Walaupun masyarakat dari daerah yang
berbeda mempunyai cara pengucapan,bunyi bahasa,kosa kata,geografis yang berbeda
meskipun bahasa yang digunakan sama tetapi terdapat perbedaan yang tidak
mencolok.
BAB V
PENUTUP
Santoso, Budi.(2006).
Bahasa dan Identitas Budaya. Sabda, 1(1), 44-49 Hidayat, Nandang Sarip. (2014). Hubungan
Berbahasa, Berpikir, Dan Berbudaya. Sosial Budaya : Media Komunikasi Ilmu-Ilmu
Sosial dan Budaya. 11 (2), 190-205
https://www.liputan6.com/regional/read/3803643/hikayat-bumiayu-saat-raja-mengejar-gadis-cantik-yang-menghilang
https://www.radarcirebon.com/2019/02/13/menyusuri-galuh-timur-desa-jawa-bermerek-sunda/
Erlienda
Younanti, Ridzky.(2015). Pengembangan Buku Kosakata Tiga Bahasa Sebagai
Penunjang Pembelajaran Bahasa Jawa Di Smp Negeri 2 Tanjung Kabupaten Brebes
(Dipublish oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang 2015).
Komentar
Posting Komentar