Nyi Roro Kidul
Nama : Bela Noviana Putri
Prodi / Semester
: Ilmu Komunikasi / 3
NIM : 43219014
Mata Kuliah : Komunikasi Lintas Budaya
Dosen Pengampu : Ery
Fajarwaty Priyono, S.S., M.A.
Mitos Nyi Roro
Kidul
Mitos (myth) adalah dongeng rakyat di
mana peran dewa atau dewa yang muncul di dunia lain atau cerita masa lalu dan
diyakini oleh pengikutnya benar-benar terjadi mengandung makna mendalam yang
diungkapkan secara gaib. Mitos berasal dari bahasa Yunani dan berarti dari
mulut ke mulut, dengan kata lain, cerita informal dari suku tersebut, yang
diturunkan dari generasi ke generasi (Christensen, 2008). Biasanya mitologi
akan menceritakan tentang kemunculan alam semesta, dunia, bentuk unik hewan,
bentuk medan, petualangan para dewa dan lain sebagainya. Legenda (legend)
adalah sejenis cerita rakyat yang diyakini pernah terjadi, biasanya melibatkan
manusia, kekuatan gaib, tempat atau benda. Legenda tidak sesuci mitos. Mitos
dan legenda mengandung kearifan, pengalaman dan nilai budaya. Metode pengajaran
budaya melalui cerita-cerita yang informatif secara moral telah digunakan
selama ribuan tahun, cerita yang sama telah diturunkan dari generasi ke
generasi dan mengalami distorsi dalam proses transmisi, sehingga tidak
diketahui kebenarannya lagi.
Menurut William Bascom (William Bascom),
mitos memiliki ciri khasnya sendiri: orang yang memiliki cerita percaya bahwa
cerita itu benar-benar terjadi (fact), cerita terjadi di masa lalu (remote
past), dan cerita terjadi di dunia lain (different world). Masyarakat pemiliknya
menganggapnya sebagai cerita suci (sakral),
dan tokoh utamanya bukanlah manusia (non-human)
(daalm Dundes, [ed], 1984: 9). Mitos sebagai bentuk budaya, mitologi tidak
lepas dari latar belakang lingkungan alam sekita tempat tinggal masyarakat.
Munculnya mitos menunjukkan bahwa manusia hidup dalam gagasan primitif, alam
spiritual praktis atau mitos. Meski menandai tahap pemikiran, mitos itu sama
sekali bukan tanpa nilai. Mitos memberikan pedoman yang nyata dan penting bagi
kehidupan komunitas masyarakat.Terkait mitos dan legenda, tanda dan metafora
memainkan peran kunci dalam transformasi, baik pada tingkat individu, kelompok,
organisasi, atau sosial. Hal ini dikarenakan simbol dan metafora memiliki
ketertarikan yang nonrasional dan emosional pada manusia dan memiliki dampak
yang besar pada kesadaran manusia (Movva, 2004).
Kehidupan masyarakat di Indonesia penuh
dengan mitos, khususnya masyarakat Jawa. Bagi orang Jawa, banyak hal yang dekat
dengan kehidupan, yang diyakini pamali ketika dilakukan. Namun nyatanya, yang
dianggap mitos dan pamali memiliki sisi logis yang sesuai dengan realitasnya. Salah satu
mitos yang ada di Jawa adalah kisah Nyi
Roro Kidul yang hingga saat ini dipercaya banyak orang akan keberadaannya dan
hal-hal yang dilarang. Bagi orang Jawa, dia adalah tokoh yang masih ditakuti
dan dihormati hingga saat ini. Meski keberadaannya masih misterius, kisah Nya
Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan masih terus diperbincangkan. Lantas,
siapakah sebenarnya sosok penjaga kawasan selatan Jawa (Samudera Hindia)? Sejarah
Ratu Selatan Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul sudah dikenal di seluruh
dunia, bahkan turis mancanegara pun kerap datang ke pantai selatan Jawa untuk membayar rasa penasarannya kepada
sosok Nyi Roro Kidul. Mitos dan kepercayaan tentang Kanjeng Ratu Kidul masih
sangat kental di masyarakat Jawa. Hal ini setidaknya terlihat pada kekuatan
lembaga adat yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan di Surakarta yang
mengakui keberadaannya. Pengakuan ini terwujud dalam ritual sedekah Labuhan dan
pertunjukan tari Bedhaya Ketawang, program ritual tahunan resmi sebuah lembaga
masyarakat tradisional Jawa.
Di jaman dahulu, di daerah Jawa Barat ada
sebuah kerajaan bernama Pakuan Pajajaran. Kerajaan tersebut dipimpin seorang
raja yang sangat bijaksana dan arif mengatur kerajaan. Rakyat di bawah
pemerintahannya sangat senang dan menghormati raja karena kepemimpinannya
membuat rakyat sejahtera. Nama rajanya adalah Raja Prabu Siliwangi. Raja
memiliki banyak anak, salah satunya bernama Putri Kandita. Dia adalah gadis
yang sangat cantik jelita, karena kecantikannya yang mempesona dia juga
dipanggil Dewi Srengenge (matahari yang
indah). Putri Kandita memiliki hati yang baik dan memiliki sifat yang sama
dengan ayahnya. Sang Prabu Siliwangi sangat menyayangi Putri Kandita, dan
seiring bertambahnya usia, Putri Kandita memiliki wajah yang cantik, dan daerah
di mana ia menjadi anak tunggal kemudian menjadi pewaris tahta Prabu Siliwangi.
Mendengar permintaan Prabu Siliwanga agar Putri Kandita menjadi pewaris tahta para
selir dan anak-anaknya tidak setuju. Mereka tidak ingin Putri Kandita menjadi
Ratu kelak.
Suatu hari para selir dan anak-anak
mereka berkumpul untuk merencanakan tipu muslihat jahat untuk mengeluarkan
Putri Kandita dan ibunya dari istana. Untuk melaksanakan rencana mereka, mereka
meminta bantuan dari seorang penyihir yang tinggal di desa terpencil dan
memiliki berbagai jenis ilmu hitam. Suatu hari, tanpa sepengetahuan Raja, para
selir dan anak-anak mereka mendatangi sang Penyihir dan memberikan imbalan yang
diminta sang Penyihir, selir, dan anak-anak mereka. Mereka ingin putri Kandita
dan ratunya menerima kutukan agar mereka tidak menjadi pewaris takhta raja.
Tanpa menunggu lama, sang penyihir memenuhi tugasnya. Menggunakan ilmu hitam,
ia menyihir Putri Kandita dan ibunya menderita kusta. Suatu hari terbangun dari
tidurnya, Putri Kandita dan ibunya menjadi buruk rupa, badan yang semula mulus,
bersih dan bewarna zaitun langsung berubah, badan mereka dipenuhi borok dan
mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Putri Kandita dan permaisuri terserang
penyakit kusta yang tidak kunjung sembuh. Prabu Siliwangi yang terkejut melihat
penyakit aneh pada dua orang kesayangannya itu segera memanggil tabib Raja
untuk berobat. Tapi setelah bereksperimen dengan berbagai ramuan, tabib
kerajaan tetap tidak bisa menyembuhkannya. Putri Kandita dan penyakit ibunya
semakin parah. Tubuh mereka menjadi lebih lemah karena mereka tidak dapat
mencerna makanan dan minuman. Putri Kandita yang masih muda bisa menahan
penyakitnya. Namun, ibu tua itu tidak bisa bertahan sampai akhirnya dia
menghembuskan nafas terakhir. Putri Kandita dan raja sangat terpukul dengan
kematian permaisuri. Berhari-hari Prabu Siliwangi berpikir sendiri, ia sangat
sedih karena orang yang paling ia cintai meninggalkan dunia lebih dulu. Namun,
Baginda juga merasa sangat terpukul melihat
kondisi Putri Kandita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Ia sangat
prihatin karena Putri Kandita akan menggantikan tahta kerajaan.
Suatu hari para selir dan anak-anaknya
datang menemui raja untuk menghasut Putri Kandita ke pengasingan. Awalnya raja
menolak. Namun karena khawatir penyakitnya akan menular, Prabu Siliwangi
terpaksa menyetujui lamaran tersebut. Tanpa sepengetahuan raja, selir dan
saudara kandung. Putri Kandita yang mendengar percakapan tersebut sangat kecewa
dan memutuskan untuk melarikan diri dari istana. Dalam suasana sedih, bingung
dan tidak menentu, Putri Kandita meninggalkan istana tanpa maksud tertentu dan
berjalan tanpa tujuan selama berhari-hari, hingga akhirnya sampai di pantai
selatan pulau Jawa yang penuh bebatuan dan ombak besar. Dia kemudian
beristirahat di salah satu batu sampai dia tertidur karena kelelahan.
Dalam tidurnya, Putri Kandita bermimpi
mendengar suara ajaib yang membuatnya menceburkan diri ke laut agar penyakitnya
bisa sembuh dan sehat seperti semula. “Lemparkan dirimu ke laut, Putri Kandito,
jika ingin menyembuhkan penyakitmu. Kulitmu akan sehalus sebelumnya. "
Putri Kandita bangun dari tidurnya. Kemudian dia mempertimbangkan untuk
menyerap kata-kata ajaib karena dia meragukan apakah suara itu adalah wangsit
atau hanya bisikan lelucon dalam tidurnya. Namun sejauh mata memandang, yang
tersisa hanyalah pasir putih dan ombak yang melambai di sekitarnya. Oleh karena
itu, yakinlah bahwa Putri Kandita bahwa suara ajaib itu adalah wangsit yang
harus dibuatnya untuk kesembuhannya sendiri. Percaya bahwa suaranya adalah
wangsit, Putri Kandita langsung menuruti perintahnya. Sangat ajaib! Dengan
membersihkan dirinya sendiri dengan terjun ke laut, seluruh tubuh Putri Kandita
yang memborok berangsur-angsur menghilang dan menjadi mulus kembali, dan pada
saat yang sama memperoleh kesaktian untuk membalas penderitaan yang dialaminya.
Kesembuhan Putri Kandita tidak membawanya kembali ke istana. Ia lebih memilih
menetap di pesisir selatan dan berbaur dengan penduduk setempat yang sebagian
besar berprofesi sebagai nelayan.
Sejak tinggal di sana, Putri Kandita
sangat terkenal dengan kecantikannya. Banyak pangeran datang dari berbagai
kerajaan. Namun, dari sekian banyak yang melamarnya, Putri Kandita sama sekali
tidak tertarik. Beberapa dari mereka menyerah karena Putri Kandita mengalami
kondisi yang sangat sulit. Salah satu syaratnya adalah mengadu kesaktianya di
atas gelombang tepi pantai atau laut. Namun beberapa dari mereka menerima
syarat tersebut dan ternyata diantara sekian banyak laki-laki yang diadu
kekuatan gaib tersebut tidak ada yang mampu mengalahkan Putri Kandita. Akhirnya
mereka menjadi pengikut setia yang selalu mengantar sang putri kemanapun dia
pergi. Mimpinya menjadi kenyataan. Selain mendapatkan kembali dan kembali ke
kecantikan, dia juga memperoleh kekuatan supernatural dan keabadian. Sejak saat
itu, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Jawa yaitu Nyai
Roro Kidul. Sejak itu ia disebut sebagai Nyi Loro Kidul (yang artinya loro =
derita, kidul = selatan), atau sang Ratu Penguasa Laut Selatan yang hidup
abadi. Sebagai Ratu Pantai Selatan, keberadaan Nyi Roro Kidul masih sangat
dihormati oleh masyarakat setempat. Bahkan ada beberapa tempat yang konon
menjadi penghubung dunia nyata dengan Nyi Rorol Kidul.
Sebuah tempat yang menjadi penghubung ke
dunia Nya Roro Kidul. Konon ada beberapa tempat yang diyakini menjadi
penghubung antara dunia nyata dan dunia Nya Roro Kidul. Salah satu tempat yang
paling terkenal adalah Hotel Inna Samudera, Jawa Barat. Merupakan hotel
berbintang lima yang terletak di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.
Hotel ini sebenarnya hampir sama dengan hotel pada umumnya yang sudah lengkap
mulai dari pelayanan yang baik, kolam renang, taman bermain. Satu-satunya yang
membuat Hotel Inna unik adalah adanya kamar khusus untuk Nya Roro Kidul. Kamar
nomor 308 secara mitos dianggap sebagai tempat peristirahatan Nyai Roro Kidul.
Meski cukup dihantui oleh pernak pernik para korban dan bau kemenyan, kamar ini
tak pernah lepas dari antusias wisatawan yang penasaran. Bayar sekitar Rp35.000
untuk melihat lebih dekat kamar ini tanpa perlu menginap. Selain Hotel Inna,
beberapa tempat yang konon jadi penghubung ke dunia Nyi Roro Kidul adalah
Pantai Pelabuhan Ratu, Pantai Parangtritis, Pantai Sembukan.
Ada lagi mitos lain bahwa jika seseorang
dengan pakaian hijau di pantai selatan akan cepat mati karena ombak. Bahkan ada
yang percaya bahwa arwahnya akan menjadi prajurit baru Nya Roro Kidul. Lantas
apa alasan larangan pakaian hijau di pantai selatan Jawa? Cerita bermula ketika
seorang Panembahan Senopati bernama Raden Danang Sutawijaya yang menjadi
pendiri kerajaan Mataram mencari kesaktian untuk mengalahkan Kerajaan Pajang.
Pertapaan yang dia buat di pantai selatan. Saat itulah Raden Danang bertemu Nyi
Roro Kidul secara kebetulan. Mereka berdua membuat perjanjian okultisme. Konon
Nyi Roro Kidul meminta Raden menikah dengannya agar kekuatannya langgeng. Sejak
saat itu, Nyi Roro Kidul selalu mengenakan pakaian berwarna hijau saat pacaran.
Raden Danang juga memerintahkan rakyatnya untuk tidak mengenakan pakaian hijau
di pantai selatan. Regulasi ini masih sangat dipercaya.
Keberadaan Nya Roro Kidul menjadi
penentu identitas penguasa pesisir Laut Selatan (Samudera Hindia). Sebutan
penguasa (ratu) Laut Selatan telah tumbuh, berkembang, dikenal, dipercaya dan
diakui oleh masyarakat yang tinggal di pesisir selatan Jawa yang pantainya
memiliki tebing curam yang berbahaya, dan di pedalaman Jawa Tengah yang
topografinya bergunung-gunung, dengan tebing yang mengerikan. Menurut
Herskovits dan Bakker, dari sudut pandang psikologis masyarakat atau orang yang
tinggal di lingkungan alam yang berbahaya atau mengerikan, mereka membutuhkan kehadiran
penguasa supranatural dan pelindung hidup mereka. Di sisi lain, dalam komunitas
atau orang yang tinggal di daerah aman atau di kerajaan yang bersahabat, jarang
ditemukan mitos penguasa supernatural dan pelindung alam. Keberadaan Nyi Roro
Kidul sebagai penguasa gaib dan pelindung tentunya dihormati dan dipuja oleh
masyarakat, sehingga masyarakat tidak berani memakai lumut hijau di pesisir
pantai Laut Selatan, karena inilah warna pakaian ratu. Publik tidak ingin
membuat ratu jadi marah. Jika ada musibah, nyawa korban ada di pantai atau di Laut Selatan,
masyarakat akan ikhlas menerima malapetaka tersebut, karena keimanan korban
memang telah dipilih dan dibutuhkan oleh ratu sebagai tentara atau penjaga
istana gaib.
Sementara itu, munculnya mitos Nyi Roro
Kidul sebagai penguasa Laut Selatan dapat dipahami sebagai ungkapan alam bawah
sadar psikologis perempuan dalam warisan konflik antara laki-laki versus
perempuan. Nyi Roro kidul secara tidak sadar memberontak karena sebagai seorang
putri dia mungkin tidak bisa duduk di singgasana Kerajaan Pajajaran. Bahkan ia
merasa mampu menjadi raja karena kecantikan, kecerdasan dan potensi
spiritualnya yang tinggi. Karena itu, setelah diusir dari keraton, Nyi Roro
kidul bersemedi di Gunung Kombang dan menjadi seorang pertapa yang sakti.
Obsesi Nyi Roro kidul untuk menjadi penguasa berhasil setelah dia mampu, berkat
kemampuan spiritualnya yang tinggi, untuk menaklukkan roh Laut Selatan untuk
menjadi pasukan dan personelnya. Nyi Roro kidul yang menyandang gelar Kanjeng
Ratu Kidul menjadi penguasa kerajaan laut yang tidak dapat dihuni oleh manusia
dan rakyatnya, tanpa menjadi penguasa kerajaan di darat dengan manusia.
Mitos yang merupakan produk budaya tidak
hanya diciptakan oleh nenek moyang tanpa ada bukti signifikan yang
mendukungnya. Saat ini, mitos tidak terlalu penting bagi masyarakat. Mereka
hanya mengetahui tanpa menganalisis makna dalam mitos tersebut. Analisis mitos
dapat dilakukan berdasarkan kondisi fisik wilayah dan etika kontemporer.
Analisis mitos tentang Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Pesisir Selatan lebih
didasarkan pada kondisi fisik Pesisir Selatan Jawa. Terbukti ada keterkaitan, meski
tidak terlalu signifikan antara kemarahan Nyi Roro Kidul dengan kisah ombak
besar bahkan tsunami yang sebagian besar melanda pantai selatan.
Daftar Pustaka
Soedjijon,
Suryantor. 2018. Kompleks Mitos Kanjeng
Ratu Kidul (Kajian dengan Pendekatan Kearifan Lokal). Ejournal Unikama.
Vol 8: 84-93
Setiawan,
Irwan. 2009. Mitos Nyi Roro Kidul Dalam
Kehidupan Masyarakat Cianjur Selatan. Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai
Tradisional Bandung. Vol 1: 188-200
Angeline,
Mia. 2015. Mitos dan Budaya.
Humaniora. Marketing Communication Department, Faculty of Economics and
Communication, BINUS University. Vol.6: 190-200
https://duniaku.idntimes.com/geek/culture/doni-jaelani/legenda-nyi-roro-kidul
Komentar
Posting Komentar